Sudah menjadi Sunnatullah jika setiap orang yang berlari ketika
melakukan sebuah permainan dalam olah raga pasti akan merasakan lelah. Setiap
orang yang selalu bekerja dengan giat pasti akan merasakan letih. Setiap orang
yang selalu belajar dengan membaca buku, mendengar ceramah di berbagai tempat
pasti akan mengalami masa-masa kehilangan semangat. Setiap orang yang selalu
beribadah siang dan malam pasti akan merasakan datangnya rasa malas. Inilah
yang dinamakan dengan futur.
Banyak Ulama’ ahli bahasa yang menerangkan tentang arti futur (الفتور), yang mana semua keterangan mereka saling
melengkapi dan saling menambah penjelasan antara satu dan yang lain. Diantaranya Ar raghib Al ashbahani dalam
mufrodatul qur’an berkata : futur adalah diam setelah giat, lembut setelah
keras, lemah setelah kuat. Maka dapat disimpulkan bahwa futur adalah
perasaan malas dan merasa longgar setelah rasa sungguh-sungguh dan rajin.
Tentang rasa futur Ibnu hajar rahimahullah
berkata : perasaan condong kepada sesuatu yang sangat berat kemudian larinya
manusia dari sesuatu itu setelah mencintainya. Dan itu adalah penyakit yang
menimpa ahli ibadah, da’i, dan para penuntut ilmu. Kemudian orang akan merasa
lemah, longgar, dan malas. Maka terputuslah kesungguhan, keinginan yang kuat, dan
sifat rajinnya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sebagai sosok yang mana seorang
muslim harus menjadikannya sebagai suri tauladan dalam segala hal, bersabda :
“Setiap amal itu ada masa-masa semangat dan setiap masa-masa semangat ada masa
futur. Barangsiapa yang masa
futurnya tetap dalam sunnah, maka dia telah mendapat hidayah. Namun barangsiapa yang
masa futurnya membawa kepada selain itu (sunnah), maka dia telah celaka.” (HR. Ibnu hibban dan Al bani menshahihkannya).
Hadist tersebut menjelaskan bahwa sudah menjadi
hal yang wajar jika rasa futur itu datang. Bahkan bisa jadi futur itu adalah
sesuatu yang pasti dan akan sulit untuk dihindari. Maka Rasulullah memberikan
kabar gembira kepada ummatnya dengan hidayah jika rasa futur itu datang tetapi masih tetap
berada dalam sunnahnya. Dan sebaliknya, Rasulullah menyatakan seseorang akan
dikatakan celaka apabila rasa futur datang tetapi orang itu lari dari sunnah
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.
Macam-macam futur
Bagian yang pertama adalah futur yang
menyebabkan seseorang berhenti total untuk melakukan segala macam amalan.
Seseorang yang biasa melakukan ibadah kemudian berhenti melakukannya. Seseorang
yang giat dalam menuntut ilmu kemudian berhenti menuntut ilmu. Seorang da’i
yang selalu berdakwah kemudian berhenti untuk berdakwah.
Wal iyadzu billah
Bagian yang kedua adalah futur yang hanya
menyebabkan seseorang malas untuk melakukan sebagian amalan. Dan inilah yang
lebih banyak menjadi penyakit seseorang dari pada futur jenis pertama yang
telah disebutkan di atas.
Seperti seseorang yang terbiasa membaca Al
qur’an tiga juz setiap hari, kemudian hanya membaca kurang dari satu juz.
Seseorang yang terbiasa membaca hingga tiga puluh halaman buku setiap hari,
menjadi hanya membaca beberapa halaman saja. Seorang pelajar yang mempunyai
delapan mata pelajaran dalam kelasnya setiap pekan, hanya mengikuti tiga mata
pelajaran saja dan meninggalkan yang tersisa.
Hal yang tampak ketika futur
Hal yang tampak ketika futur sebagaimana yang
telah kita ketahui adalah rasa malas dalam beribadah dan melaksanakan ketaatan
diiringi perasaan yang sangat berat dalam melaksanakannya. Dan salah satu dari ibadah yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah sholat lima waktu, perlu menjadi perhatian bagi kita adalah jika perasaan malas dalam melaksanakan sholat lima waktu ini hadir. Maka kita harus
memaksa diri dan berusaha untuk mengusir rasa malas itu. Karena
malas ketika mendirikan sholat adalah salah satu dari ciri orang munafik,
sebagaimana Allah Subhanahu wa
ta’ala berfirman :
وَإِذَا قَامُوا
إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا
قَلِيلاً
“Apabila mereka berdiri untuk shalat
mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) dihadapan
manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. Al
Maidah:142)
Sholat lima waktu
adalah sebuah kewajiban yang tidak ada ruang untuk futur dalam pelaksanaannya.
Adalah hal yang boleh dan dimaklumi ketika futur dalam melaksanakan hal-hal
yang bersifat sunnah secara hukum fiqh. Adalah hal yang diperbolehkan futur
dalam sebagian ketaatan dan amalan.
Tetapi tidak dalam hal yang bersifat faridhoh atau kewajiban.
Mungkin kita dapati
seseorang yang mendengar adzan tetapi tidak bersegera menuju ke masjid dan
mengatakan iqamah belum dikumandangkan. Kemudian ketika salah seorang teman berangkat ke masjid dia bertanya, kapan
imam datang? dan ketika mendengar iqamah dia mengtahui imam hari ini jika
sholat bacaan suratnya panjang, maka dia menunda keberangkatannya. Sepuluh
menit baginya ketika sholat terasa begitu lama dan membosankan -wal
iyadzubillah-.
Akan tetapi ketika
diberitahukan kepadanya besuk akan ada pertandingan sepakbola misalnya. Dia bersegera dalam menjawab panggilan
itu dan tidak mau tertinggal barang satu menit saja. Pertandingan itu menghabiskan waktu berjam-jam dan dia
mengatakan seakan berjalan begitu cepat waktunya.
Dia selalu menyebutkan banyak hadist yang
memerintahkan untuk meringankan bacaan dalam sholat, tapi seakan melupakan hadist yang menerangkan panjang bacaan Rasulullah
ketika sholat. Sholat adalah penghubung antara seorang hamba dan Sang pencipta
Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada tempat untuk futur dalam melaksanakannya.
Termasuk dari hal yang tampak ketika seseorang terkena penyakit futur
adalah tertutup hatinya untuk menerima kebenaran. Maka, tidak berpengaruh
baginya nasehat-nasehat ulama dan asatidz yang diberikan, bahkan tidak
berpengaruh pula bagi hatinya ayat-ayat Al qur’an yang dia mendengarkannya.
Padahal termasuk dari sifat orang Mu’min adalah apabila diperdengarkan
ayat-ayat Al qur’an bertambah keimanannya.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ
إِيمَان
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan
apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertembah kuat imannya..” (Qs. Al
anfal:2)
Termasuk dari hal yang tampak ketika futur adalah terjerumusnya
seseorang kepada maksiat dan dosa tanpa ada perasaan bersalah telah
melakukannya. Dia mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah kesalahan
kecil yang tidak perlu dipermasalahkan, kemudian mengatakan masih ada hal yang
lebih dosa besarnya dari maksiat yang dilakukannya.
Menjalani hari tanpa ada manfaat dan faedah juga salah satu hal yang
tampak ketika futur. Hari-hari terasa begitu hampa baginya, dia menjalani harinya
tanpa melakukan apapun yang berguna baik untuk dirinya ataupun orang lain.
Banyak orang yang sedang terkena futur berkata “bahwa zaman telah berubah dan
aku tidak bisa mengambil manfaat dalam hidupku.”
Setiap penyakit ada obat
futur adalah sebuah penyakit dan
tidaklah penyakit di dunia ini melainkan ada obatnya. Beberapa diantara hal-hal
yang dapat menghindarkan seseorang dari futur adalah. Mengikhlaskan niat hanya
mengharap ridho Allah ketika beramal, menghindari banyak berkhayal, menghindari
ibadah berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, berteman dengan orang
sholeh, tidak meremehkan dosa-dosa kecil yang dilakukan, dan selalu
bermuhasabah atau intropeksi diri.
Untuk menghindari futur, Rasulullah Shalallahu
alaihi wa sallam juga telah mengajarkan do’a kepada umatnya agar selalu
ditetapkan dalam ketaatan.
اَللَّهُمَّ مُـصَـــرِّفَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ،
صَرِّفْ قُلُوْبَنَــا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, yang mengarahkan hati,
arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin
Amr bin al-’Ash radhiyallahu anhuma)
يَـــامُـقَلِّبَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ،
ثَـبِّتْ قَـلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Rabb yang membolak-balikkan
hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)
Itulah beberapa hal yang bisa
dilakukan oleh seorang Muslim agar terhindar dari penyakit futur dan selalu
konsisten dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu ta’ala
a’lam
By : Muhammad Fakhri
Ihsani