Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Friday, 18 September 2015


Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Dzulhijjah 1436 H, yang merupakan Syahr al-Hurum [bulan suci]. Bulan yang dimuliakan, dimana kebaikan yang dilakukan di dalamnya dilipatgandakan oleh Allah, begitu juga sebaliknya.

KH. Hafidz Abdurrahman dalam tulisannya menjelaskan tentang kemuliaan bulan dzulhijjah sebagai salah satu dari bulan haram. Apa saja yang membuat bulan ini mulia, berikut pembahasannya:
Allah SWT telah menyebut dalam satu tahun, ada empat bulan haram [suci]. Ini ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [سورة التوبة: 36]
Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari, ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Maka, janganlah kalian menzalimi diri kalian di bulan-bulan itu.” [Q.s. at-Taubah: 36]

Para ulama’ ahli tafsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan bulan-bulan suci di dalam Q.s. at-Taubah: 36 ini adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Itulah empat bulan haram [suci] yang dimaksud oleh Allah SWT. Maksud ayat di atas telah dijelaskan sendiri oleh Nabi saw:

Wednesday, 12 August 2015


DR Yusuf Qardhawi_ Distorsi Sejarah Islam, hal 25 :

Salah satu yang ingin saya jelaskan dengan obyektif adalah para penguasa dulu tidak memiliki pengaruh seperti para penguasa di zaman sekarang. Pemerintah di zaman sekarang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat. Ia memiliki kendali dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Dari mulai tingkat Taman kanak-kanak (TK) hingga tingkat Universitas.

Ia memiliki kendali media massa. Baik dalam bentuk tulisan, audio ataupun visual, media-media itulah yang pada zaman sekarang membawa berita dan pemikiran, dan semua itu bisa diwarnai sesuai dengan keinginan.

Adapun negara di zaman dahulu tidak memiliki pengaruh seperti itu, tidak setengah ataupun sepersepuluhnya.

Pada zaman dahulu ulama mengajar masyarakat di masjid dan sekolah. Dan semua itu dilakukan bukan atas perintah negara. Pada zaman dahulu, ulamalah yang memberikan fatwa kepada masyarakat. Baik dalam urusan agama ataupun kehidupan mereka. Dan hal tersebut tidak ada hubungannya dengan negara sedikitpun.

Sunday, 9 August 2015



Sudah bukan masanya lagi memasung diri dengan teori... 
Saatnya mengaca bahwa usia sudah tak lagi jenaka dan gantung sepatu dari mengikut-ikuti konsep jejak hidup orang lain yang katanya sukses... 
Mental sudah ada, pengalamanpun sudah punya...

Pengetahuan seadanya bukan berarti sudah menjadi garis polisi untuk tidak bergerak...  Lakukankan yang bisa di lakukan kawan...
 
Rute hidup sudah jelas tanpa filsafat, logika dan norma semu...
Singkirkan semua pertimbangan dan perhitungan yang sarat mengulur waktu...
Terlalu lama mempertimbangkan sampai- sampai ketiduran...
 
Catatan-catatan kecil dan semua rumus sudah pindah rak...
Dan alat teropong untuk memantau orang lain sudah saatnya di jual ke bazar.Terlalu lama di pakai sampai lupa di buang... 
Siapkan semua perlengkapan dan bekal lalu berbuat untuk sebuah kejelasan...



"Bingkisan Nasehat"

Cita yang tinggi membutuhkan proses dan pengorbanan.
Jika saja semua cita terjadi instan bagai sebungkus mie rebus. Seorang pedagang sukses tidak akan rela bangun di pagi buta hanya karena niaganya.

Seorang Ulama’ tidak perlu bersusah payah mengorbankan waktu untuk menghafal berbagai matan kitab dari yang berparagraf hingga yang berbait rapi...

Jika saja semua cita terjadi instan . Atlet profesional akan lebih senang bersantai dari pada membanting tubuh dengan bermacam porsi latihan yang menyiksa. Semuanya membutuhkan proses dan pengorbanan. Lalu bagaimana jika mati paling mulia yang dicita ???

Sepertinya jalan masih begitu panjang... Lisan masih saja mudah dan ringan mengiris perasaan teman, sahabat, dan sanak saudara. Dengki selalu menggantung di hati memandang kesuksesan tetangga. Itsar yang dianjurkan hanya sebatas pengetahuan belaka tanpa amalan nyata. Fitnah wanita dunia yang tak jua mereda. Hari berlalu tanpa guna bagi diri dan manusia. Hanya menambah dosa dan murka sang pencipta. Sepertinya jalan masih begitu panjang...

Friday, 29 May 2015

Berbicara tentang remaja tidak luput dari masa pubertas, masa dimana dapat dikatakan suatu fase perkembangan yang dialami seseorang ketika memasuki usia 12-22, peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, disinilah masa yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang untuk di masa yang mendatang.
Melihat tumbuh kembang remaja zaman sekarang begitu miris, tak sedikit dari mereka yang jatuh ke jurang dosa dan maksiat hanya karena awalnya ingin tahu atau ingin sekedar mencoba-coba namun kebablasan karena minimnya pengetahuan agama yang dimiliki, berikut beberapa dosa yang sering dilakukan oleh remaja zaman sekarang

1.      PACARAN
Namanya dah puber dan memang fitrahnya seneng sama lawan jenis, yang namanya cinta selalu jadi atribut mengasyikkan bagi kehidupan remaja. Saat diri sendiri merasa nggak dipahami orang lain, yang namanya lawan jenis selalu menjadi tempat asyik untuk curhat. Jadilah sepasang lain jenis berpacaran.
Bukannya asyik, pacaran malah full ancaman. Alloh Ta’ala memerintahkan menahan pandangan dari lawan jenis, orang pacaran malah saling pandang. Jadinya nggak patuh sama Alloh, kan? Belum masalah sentuh-menyentuh, yang kata Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam lebih baik kepala ditusuk paku besi daripada menyentuh wanita non mahram. Kalo menyentuh dah boleh-boleh aja, gimana nggak meningkat ke yang lebih ngeri? Kalo udah gini, siapa yang rugi? Kalo nggak tobat, bisa aja rugi akhirat. Kalo sampai zina beneran, tentu juga rugi dunia.

Thursday, 28 May 2015



Di dalam rukun Islam yang lima { syahadat, sholat, zakat, puasa, haji }, terkuak suatu rahasia perintah yang sangat mulia kepada umat Islam. Kelima perintah ini akan mendorong seorang Muslim menuju hubungan kepada Allah ‘hablu minallah’ , juga hubungan antar sesama manusia ‘ hablu minannas’ .

Rukun Islam, jika ditinjau dari hubungan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala maka amatlah jelas bahwa dengan menjalankan rukun Islam ini berarti seorang hamba telah sempurna Islamnya. Karena ia telah melaksanakan rukun yang di syariatkan, dengan kata lain ia telah menjalankan ibadah. Inilah hablu minallah.

Sedangkan yang telah terlupakan oleh umat Islam dalam menjalankan rukun Islam ini adalah adanya rahasia hablu minannas di dalamnya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukannya, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka atas tanggungan Allah.” (HR. Bukhari)

Hadits diatas telah menunjukan sunnatullah yaitu hukum sebab-akibat. Dengan seseorang menyatakan dirinya masuk Islam, menegakkan sholat dan membayar zakat. Maka akibatnya ia akan menjaga keamanan dirinya sendiri dan hartanya. Dari sini akan timbul rasa kasih sayang sesama yang di dasari dengan keimanan. Juga, akan tercerminkan akhlakul karimah yang dijunjung tinggi di dalam agama Islam itu sendiri. Akhlakul karimah telah terbukti menjadi akibat jika seorang Mukmin mampu menjalankan  Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji. Hal ini telah dinyatakan langsung oleh Allah dan Rasulnya.

Allah berfirman :

وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar “ ( Al-Ankabut :45)



Oleh : Irsyadul Hakim
 Disetiap gerakan revolusioner dalam kancah sejarah masa lalu. Terdapat banyak tokoh-tokoh heroik yang menganut pemikiran ekstrim dalam memperjuangkan ideologinya untuk merevolusi tirani penindas. Mereka mengadopsi  berbagai macam pemikiran dari buku-buku barat yang dijadika acuan pada saat itu seperti teori marxisme1 yang di gagas oleh Karl Marx.
 Dengan membaca gagasan dan teori ini, ternyata memunculkan karakter yang berbeda satu sama lain. Setiap mereka mengambil faham ini dengan kesimpulan yang berbeda. Ada yang menyerap secara keseluruhan dan ada pula yang kritis mengambilnya. Lewat cara otodidak ataupun formal pemikiran-pemikiran ini mampu mereka serap secara kritis dan membawa perubahan dalam perjuangannya.
  Berdasarkan ideologinya, secara spesifik bisa di bagi menjadi dua golongan yaitu ‘Kanan’ radikal dan ‘Kiri’ radikal. Dua kelompok ini sangat berseberangan. Bahkan dalam berbagai sisi mereka bertentangan. Indikasi ini dibuktikan dengan adanya tulisan dari pemikiran para tokoh mereka yang uniknya amat kaya perspektif. Ada yang ditulis dari perspektif Kanan radikal hingga Kiri radikal. Ada yang ditulis oleh tokoh-tokoh Darul Islam (DI) hingga tokoh-tokoh komunis (PKI).
Kokohnya ideologi ini terus eksis hingga hidup ditengah-tengah umat Islam sampai saat ini. Disadari atau tidak ideologi ini merupakan warisan masa lalu yang akan terus berjalan sampai entah kapan nantinya. Generasi penerus Kanan dan Kiri terus survive ke umat Islam hingga memunculkan terma kanan Islam dan Kiri Islam.
 Dua kelompok ini sebenarnya adalah bagian dari berbagai macam terma yang dialamatkan kepada agama ini, seperti islam moderat, islam radikal, islam liberal, islam inklusif, islam aktual, islam progresif dan lain sebagainya. Kanan Islam sebenarnya memang berpondasi sejajar dengan Kanan radikal tetapi Kiri Islam menolak disejajarkan dengan Kiri radikal (komunis). 


Dialah Rasulullah salallahu alaihi wasalam sang pembawa cahaya kebenaran, perubah peradaban dunia, pemimpin sepanjang masa, yang menjadi contoh bagi seluruh umat manusia, dan menjadi figur umat Islam di seluruh dunia,. Dengan seluruh daya upaya, beliau serahkan seluruh harta dan jiwa raga untuk tersampainya sebuah kebenaran. Seorang rasul yang tak kenal lelah dan putus asa dalam menyampaikan dan selalu mendoakan kebaikan kepada seluruh umatnya. 

Bersabar atas segala cobaan dan perih yang selalu pasang. Dan menjadi sang pemimpin yang membawa umatnya ke gerbang kemenangan.

Siroh nabawiyah adalah sebuah ilmu kehidupan yang tak akan pernah hilang oleh peradaban dan tak akan luntur digilas zaman. Ia adalah catatan perjalan kehidupan seorang Rasul utusan sang Maha pencipta. di setiap jejak langkah yang telah terlampaui, menyiratkan begitu banyaknya hikmah dan pelajaran. Ulasan dan maknanya tak bisa disamakan dengan sejarah manapun atau siapapun. Setiap ahwal akan selalu berarti karena Rabb yang mengatur alam semesta ini ikut campur dalam catatan hidup Muhammad salallahu alaihi wasalam.

 Keajaiban demi keajaiban, mukjizat demi mukjizat datang silih berganti menghiasi perjuangan. Sikap dan akhlak yang mulia senantiasa mengalir. Nasehat dan wejangan seolah tak terhenti kepada para generasi Qurani. Sehingga tak salah jika deklarasi sebaik-baik zaman adalah pada saat itu. Karena para sahabat generasi awal adalah orang-orang pilihan yang dididik langsung oleh Rasulullah. Akhlak mulia yang beliau miliki merupakan akhlak terbaik seorang manusia yang pernah hidup di muka bumi ini. Tak ada yang mampu menandingi. 



فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.( Fathir :43)
Sunnatullah atau hukum Allah adalah cara yang di tempuh oleh Allah untuk berinteraksi dengan umat manusia berdasarkan kepada sikap, perilaku, dan sepak terjang  manusia atas syariat Allah dan para nabi-nabinya. Dan akibat dari semua kejadian itu baik di dunia maupun di akhirat. ( kitab As sunan Al ilahiyah)
Sunnatullah adalah ketetapan mutlak yang  tidak akan pernah berubah di gilas zaman dan perbedaan tempat. Ia bermaqom seperti itu dan akan selalu seperti itu hingga akhir sejarah umat manusia ;surga atau neraka.
Meskipun Allah subhanahu wata’ala berkuasa atas ketetapannya, ia tidak membiarkan umat manusia buta dalam mengarungi sejarah/tarikh dari masa ke masa. Melalu para Nabi dan Rasulnya, Allah mengajarkan sunnah-sunnah-Nya  yang berupa dakwah ilallah, tentang tauhid, syariat hingga masalah-masalah kehidupan manusia sejak di ciptakannya nabi Adam alai salam sebagai seorang bapak bagi umat manusia hingga bagaimana   melaluinya dengan benar.
Para nabi dan rasul menyampaikan risalah yang sama, hingga Rasul yang terakhir yaitu Rasululullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam dengan Al-Quran. Sehingga dengan Al Quran ini manusia mampu menangkap esensi sunnatullah yang bersifat kejadian-kejadian (ahwal) yang telah terjadi dan yang akan terjadi.

Sebagai sunnah Allah yang berlaku juga bagi orang-orang telah terdahulu sebelummu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. ( Al-Ahzab:62)
Hal ini di pertegas dengan adanya kisah-kisah/ tarikh umat-umat terdahulu yang Allah ‘kisahkan’ dalam Al Quran, diantaranya : kisah para nabi dan Rasul, ashabul kahfi, ashabul ukhdud, kisah lukman dll. Kisah-kisah itu  sangat menakjubkan bahkan ada beberapa yang di ulang-ulang.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. )Yusuf :111)

Monday, 24 December 2012


Al Quran adalah mukjizat yang diturunkan Allah kepada baginda Muhammad sholallahu alaihi wa salam, di dalamnya penuh dengan pesan ilahi yang menuntun umat manusia menuju kesuksesan yang hakiki. Al Quran sebagai way of life juga telah teruji keotentikannya serta relevansinya sepanjang zaman, hal ini diakui oleh banyak kalangan tak terkecuali orientalis barat, Orientalis sekelas Edward Gibbon menyatakan “Al Quran dipersembahkan sebagai landasan pokok undang-undang dasar, bukan saja sebagai Aqidah tapi juga mencakup hukum pidana dan perdata, begitu pula ia sebagai landasan syariat yang merupakan jalur simpang siurnya kehidupan umat manusia dan tata tertib kegiatannya. ia merupakan undang- undang paripurna dalam hal perdata, perdagangan, kehakiman, pidana dan peperangan”.

Telah kita singung di atas bahwa Al Quran adalah pedoman dalam meniti kesuksesan dunia dan akhirat, akan tetapi pada realitanya banyak di antara kita yang tidak faham akan keagungan Al Quran dan tidak faham rambu rambu yang ada di dalamnya. Untuk itu diperlukan ilmu untuk memahaminya, yang kita kenal dengan Ulumul Quran (ilmu-ilmu Al Quran)

Saturday, 1 December 2012


Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasann
ya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

 
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,"Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?". Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, "Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan". Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.


Thursday, 11 October 2012




Sudah menjadi Sunnatullah jika setiap orang yang berlari ketika melakukan sebuah permainan dalam olah raga pasti akan merasakan lelah. Setiap orang yang selalu bekerja dengan giat pasti akan merasakan letih. Setiap orang yang selalu belajar dengan membaca buku, mendengar ceramah di berbagai tempat pasti akan mengalami masa-masa kehilangan semangat. Setiap orang yang selalu beribadah siang dan malam pasti akan merasakan datangnya rasa malas. Inilah yang dinamakan dengan futur.

Banyak Ulama’ ahli bahasa yang menerangkan tentang arti futur (الفتور), yang mana semua keterangan mereka saling melengkapi dan saling menambah penjelasan antara satu dan yang lain. Diantaranya Ar raghib Al ashbahani dalam mufrodatul qur’an berkata : futur adalah diam setelah giat, lembut setelah keras, lemah setelah kuat. Maka dapat disimpulkan bahwa futur adalah perasaan malas dan merasa longgar setelah rasa sungguh-sungguh dan rajin.

Tentang rasa futur Ibnu hajar rahimahullah berkata : perasaan condong kepada sesuatu yang sangat berat kemudian larinya manusia dari sesuatu itu setelah mencintainya. Dan itu adalah penyakit yang menimpa ahli ibadah, da’i, dan para penuntut ilmu. Kemudian orang akan merasa lemah, longgar, dan malas. Maka terputuslah kesungguhan, keinginan yang kuat, dan sifat rajinnya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sebagai sosok yang mana seorang muslim harus menjadikannya sebagai suri tauladan dalam segala hal, bersabda : “Setiap amal itu ada masa-masa semangat dan setiap masa-masa semangat ada masa futur. Barangsiapa yang masa futurnya tetap dalam sunnah, maka dia telah mendapat hidayah. Namun barangsiapa yang masa futurnya membawa kepada selain itu (sunnah), maka dia telah celaka.” (HR. Ibnu hibban dan Al bani menshahihkannya).

Hadist tersebut menjelaskan bahwa sudah menjadi hal yang wajar jika rasa futur itu datang. Bahkan bisa jadi futur itu adalah sesuatu yang pasti dan akan sulit untuk dihindari. Maka Rasulullah memberikan kabar gembira kepada ummatnya dengan hidayah jika rasa futur itu datang tetapi masih tetap berada dalam sunnahnya. Dan sebaliknya, Rasulullah menyatakan seseorang akan dikatakan celaka apabila rasa futur datang tetapi orang itu lari dari sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

Macam-macam futur

Bagian yang pertama adalah futur yang menyebabkan seseorang berhenti total untuk melakukan segala macam amalan. Seseorang yang biasa melakukan ibadah kemudian berhenti melakukannya. Seseorang yang giat dalam menuntut ilmu kemudian berhenti menuntut ilmu. Seorang da’i yang selalu berdakwah kemudian berhenti untuk berdakwah. Wal iyadzu billah

Bagian yang kedua adalah futur yang hanya menyebabkan seseorang malas untuk melakukan sebagian amalan. Dan inilah yang lebih banyak menjadi penyakit seseorang dari pada futur jenis pertama yang telah disebutkan di atas.

Seperti seseorang yang terbiasa membaca Al qur’an tiga juz setiap hari, kemudian hanya membaca kurang dari satu juz. Seseorang yang terbiasa membaca hingga tiga puluh halaman buku setiap hari, menjadi hanya membaca beberapa halaman saja. Seorang pelajar yang mempunyai delapan mata pelajaran dalam kelasnya setiap pekan, hanya mengikuti tiga mata pelajaran saja dan meninggalkan yang tersisa.

Hal yang tampak ketika futur

Hal yang tampak ketika futur sebagaimana yang telah kita ketahui adalah rasa malas dalam beribadah dan melaksanakan ketaatan diiringi perasaan yang sangat berat dalam melaksanakannya. Dan salah satu dari ibadah yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah sholat lima waktu, perlu menjadi perhatian bagi kita adalah jika perasaan malas dalam melaksanakan sholat lima waktu ini hadir. Maka kita harus memaksa diri dan berusaha untuk mengusir rasa malas itu. Karena malas ketika mendirikan sholat adalah salah satu dari ciri orang munafik, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً

“Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) dihadapan manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. Al Maidah:142)

Sholat lima waktu adalah sebuah kewajiban yang tidak ada ruang untuk futur dalam pelaksanaannya. Adalah hal yang boleh dan dimaklumi ketika futur dalam melaksanakan hal-hal yang bersifat sunnah secara hukum fiqh. Adalah hal yang diperbolehkan futur dalam sebagian ketaatan dan amalan.  Tetapi tidak dalam hal yang bersifat faridhoh atau kewajiban.

Mungkin kita dapati seseorang yang mendengar adzan tetapi tidak bersegera menuju ke masjid dan mengatakan iqamah belum dikumandangkan. Kemudian ketika salah seorang teman berangkat ke masjid dia bertanya, kapan imam datang? dan ketika mendengar iqamah dia mengtahui imam hari ini jika sholat bacaan suratnya panjang, maka dia menunda keberangkatannya. Sepuluh menit baginya ketika sholat terasa begitu lama dan membosankan -wal iyadzubillah-.

Akan tetapi ketika diberitahukan kepadanya besuk akan ada pertandingan sepakbola misalnya. Dia bersegera dalam menjawab panggilan itu dan tidak mau tertinggal barang satu menit saja. Pertandingan itu menghabiskan waktu berjam-jam dan dia mengatakan seakan berjalan begitu cepat waktunya.

Dia selalu menyebutkan banyak hadist yang memerintahkan untuk meringankan bacaan dalam sholat, tapi seakan melupakan hadist yang menerangkan panjang bacaan Rasulullah ketika sholat. Sholat adalah penghubung antara seorang hamba dan Sang pencipta Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada tempat untuk futur dalam melaksanakannya.

Termasuk dari hal yang tampak ketika seseorang terkena penyakit futur adalah tertutup hatinya untuk menerima kebenaran. Maka, tidak berpengaruh baginya nasehat-nasehat ulama dan asatidz yang diberikan, bahkan tidak berpengaruh pula bagi hatinya ayat-ayat Al qur’an yang dia mendengarkannya. Padahal termasuk dari sifat orang Mu’min adalah apabila diperdengarkan ayat-ayat Al qur’an bertambah keimanannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَان

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertembah kuat imannya..” (Qs. Al anfal:2)
Termasuk dari hal yang tampak ketika futur adalah terjerumusnya seseorang kepada maksiat dan dosa tanpa ada perasaan bersalah telah melakukannya. Dia mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah kesalahan kecil yang tidak perlu dipermasalahkan, kemudian mengatakan masih ada hal yang lebih dosa besarnya dari maksiat yang dilakukannya.

Menjalani hari tanpa ada manfaat dan faedah juga salah satu hal yang tampak ketika futur. Hari-hari terasa begitu hampa baginya, dia menjalani harinya tanpa melakukan apapun yang berguna baik untuk dirinya ataupun orang lain. Banyak orang yang sedang terkena futur berkata “bahwa zaman telah berubah dan aku tidak bisa mengambil manfaat dalam hidupku.”

Setiap penyakit ada obat

futur adalah sebuah penyakit dan tidaklah penyakit di dunia ini melainkan ada obatnya. Beberapa diantara hal-hal yang dapat menghindarkan seseorang dari futur adalah. Mengikhlaskan niat hanya mengharap ridho Allah ketika beramal, menghindari banyak berkhayal, menghindari ibadah berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, berteman dengan orang sholeh, tidak meremehkan dosa-dosa kecil yang dilakukan, dan selalu bermuhasabah atau intropeksi diri.

Untuk menghindari futur, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam juga telah mengajarkan do’a kepada umatnya agar selalu ditetapkan dalam ketaatan.

اَللَّهُمَّ مُـصَـــرِّفَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَــا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu anhuma)

يَـــامُـقَلِّبَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، ثَـبِّتْ قَـلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim agar terhindar dari penyakit futur dan selalu konsisten dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu ta’ala a’lam

By : Muhammad Fakhri Ihsani


Suatu ketika Gus Dur berkata “ gitu aja kok repot “. Kata bualan yang penuh makna. Keluar begitu saja tanpa beban seolah dialah pengendali masalah itu. Dilihat sekilas memang kalimat itu tdaklah baku. Atau termasuk dalam bahasa bebas. Diluar pro kontra akan ketokohannya, kata katanya bisa dijadikan motifasi teoritis. Bahkan orang yang berpengalaman sekalipun akan merekonstruksi ulang toriqoh yang dia anggap salah berkepanjangan karena termotifasi teori ini. Menarik jika kita teliti secara rasional. Karena ternyata semua masalah ada jalan keluarnya.

Masalah adalah masalah. Ia seperti sebuah investasi ataupun invasi dari yang maha mengatur alam semesta. Seperti hukum kosmos yang teratur dalam otoritas sang kholik. Masalah bisa timbul dari mana saja, dengan metode apa saja. Ia diciptakan hanya untuk makhluk yang di anugrahi nyawa. Semuanya yang bernyawa akan berkoalisi dengan yang namanya masalah. Dalam hal ini kita tidak akan repot repot membahas masalah dalam dunia satwa. Tapi insyallah melalui buah pikiran ini, kita akan menyinggung pemecahan masalah dalam dunia manusia sebagai makhluk sosial dan beradab.

Yang perlu sekali kita cermati dalam hidup ini bahwa manusia ada yang memiliki. Dialah Allah sang maha memiliki. Sang pemilik adalah yang paling berhak terhadap miliknya. Jika dia menghendaki manusia di ciptakan untuk menghadapi masalah. Maka secara profesional, manusia seharusnya dengan gagah menghadapinya. Dengan di invasikanya masalah ini pada kehidupan manusia, maka Allah tidak membiarkan masalah ini secara membabi buta meruntuhkan kemanusiaan. Oleh karna itu dengan keperkasaan Nya, di ciptakanlah sang akal khusus untuk mempagar betisi ataupun mengclean sheet kan segala bentuk permasalahan. ya!, namanya adalah sang akal. Akal adalah anugerah yang besar yang tak terbantahkan. Ia menjadi titik terpenting dalam struktur keorganisasian dalam macam aspek diciptakanya manusia. Ialah sang pembeda antara manusia dan hewan. Antara kemuliaan dan kehinaan.

Satu gagasan penting yang harus kita kita implementasikan adalah berfikir jernih. Dalam film Shooter ( sebuah film tentang perjalanan hidup seorang Sniper ), sang aktor utama ketika bersiap melesatkan peluru berkata, “ pelan adalah lancar, lancar adalah cepat “. Dari itu kita bisa istifadah bahwa berfikir jernih adalah berfikir tenang walau lambat, karena dengan ketenangan dan kejernihan dalam berfikir akan berujung kelancaran dan kecepatan. Sebuah hal yang signifikan karena ternyata Rasulullah sendiripun juga mengingatkan : العجلة من الشيطان  “ ketergesa gesaan itu adalah dari syetan “. Dari hadits ini bisa kita sinergikan dengan pola berfikir jernih. Pola berfikir jernih ini di terapkan jika manusia mau memakai akal sehatnya. Mula mula dia akan melihat kepada jenis permasalahan yang ia hadapi, ia kenali dan akrabi. Yang kedua dia akan berpikir bagaimana cara tercerdik untuk menuntaskan masalah rumit dengan cara sederhana. Tidak tergesa gesa dan mencoba bersikap tenang. Terkadang orang hanya memikirkan kecepatan. Padahal justru disitulah awal kecerobohan.

Liat saja secara sekelibat bagaimana cara orang yang tak kunjung selesai menyalakan korek api. Dia hanya ingin segera dan segera menyala. Tapi tak sadar kalau serbuknya telah melembab. Ia paksakan hingga batang korek pun patah. Atau ketika sedang mengerjakan sebuah tugas dari kampus. Sebenarnya jika didiskusikan akan lebih cepat tuntas. Tapi karena ketergesaan tadi maka tugas pun tak kunjung selesai. Ini karena enggan berpikir jernih. Pun juga ketika orang sedang berpergian jauh. Ia tak perlu repot-repot mencari penginapan, padahal ia dapati banyak teman lama didaerah itu. Tapi karena ia hanya berpikir pendek, maka ia merepotkan dirinya sendiri. Hal ini sangat bisa difikirkan. Karena ternyata anggapan besar kecilnya masalah adalah bergantung pada worldview atau cara pandang hidup dalam artian bagaimana dia menganggap adanya si masalah. Jika masalah itu besar menurut seseorang maka akan jadi besar pulalah dia. Jika masalah itu kecil baginya maka akan jadilah ia si masalah kecil. Jika seseorang berfikir akan bisa mengatasi masalahnya maka dia akan mampu mengatasinya, meskipun bila juga belum tertuntaskan tapi dia akan selalu berjiwa besar menghadapi semua final yang telah klimaks. Tapi jika ia merasa tak mampu untuk menghadang pelbagai invasi problematika hidup, maka ia akan gagal sebelum bergerak. Walaupun pada dasarnya itu adalah masalah sepele saja.

Orang yang suka merealisasikan hidupnya dengan hal hal yang simple dan sederhana tentu ia tak akan merepotkan dirinya sendiri apalagi orang lain. Jika ia tahu ia mampu berjalan ke kanan maka ia tak akan merepotkan dirinya sendiri dengan berjalan ke kiri. Jika ia berbakat belajar kungfu mengapa harus memaksakan diri dengan belajar membaca puisi. Jika bisa mendaki melalui jalur setapak mengapa harus bersusah riya membuat jalan sendiri. Jika bisa meraih buah mangga dengan kayu mengapa harus memanjat. Jika bisa membuang sampah sendiri mengapa harus menunggu petugas pembuang sampah. Jika bisa memadamkan api sendiri mengapa harus menunggu pemadam kebakaran. Kalimat-kalimat diatas merupakan konotasi bahwa kita tak perlu merepotkan diri sendiri atau merepotkan orang lain. Tentunya indikasi tersebut diluar tujuan-tujuan positif tertentu dan sudah menjadi masalah umum.

Rasulullah sebagai suri tauladan umat Islam. Telah mencontohkan terlalu banyak pemecahan masalah dengan berfikir jernih kepada para sahabat. Bagaimana beliau tetap berfikir tenang dikala banyak pihak yang menolak dakwah beliau. Bagaimana sikap beliau menghadapi keadaan genting nan kritis ketika perang Badar. Bagaimana beliau menanggapi orang yang benar-benar tidak tahu tentang syariat, seperti seorang Badui yang kencing di Masjid. Bagaimana beliau menenangkan Abu Bakar yang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang dahsyat di Gua Tsur, hingga kata-kata hiburan itu tetap hidup hingga kini, ‘Laa Tahzan Inallaha Ma’ana’. Sampai bagaimana beliau berfikir jernih dan bijaksana dikala semua Sahabat tidak mempercayainya, yaitu meberikan maaf kepada Ikrimah bin Abi Jahl yang sebelumnya telah di black list oleh Rasulullah sebagai musuh yang harus dibunuh. Namun akhirnya dengan dimaafkannya ia, akhirnya diapun memeluk Islam. 

Contoh pertama ketika bliau berdakwah di Makkah dan banyak yang menolak. Jika orang berfikir secara serampangan tentu ia memilih medan Dakwah lain yang lebih mudah dan tidak menyakitkan hati. Tapi karena kecerdasan akal dan keluhuran moral yang ditampakan oleh beliau. Maka selama sepuluh tahun masa risalah di makkah telah menjadikan para kafir Quroisy geleng-geleng kepala. Bahkan ketika Amirul Mukminin Umar bin khatab telah memeluk islam. Ia dengan kemarahannya mengadukan untuk segera melawan dan berperang dengan kafir Quroisy. Tapi dengan kejernihan pola pikir Rasulullah yang dilandasi wahyu, maka beliau berhasil menenangkan Amirul Mukminin Umar radiyallahu ‘anhu. 

Adapun contoh yang kedua ketika akan terjadinya perang Badar. Sebuah kemustahilan dan sangat tidak menjunjung tinggi fairplay. Karena jumlah kaum muslimin ketika itu hanya 317 berbanding 1300. Tapi karena keyakinan yang di wasiatkan oleh Rasulullah maka akhirnya mereka maju dengan gagah berani dan memperoleh kemenangan. Teladan yang selanjutnya ketika para sahabat geram dan marah kala seorang Badui mengencingi masjid tempat para sahabat sholat. Dengan kejernihan pola pikir dan kebijaksanaannya, beliau tidak menyuruh untuk menghukum si Badui yang tak tahu, tapi beliau perintahkan untuk menyirami tanah yang dikencingi dengan air dan memberikan maaf kepada si Badui. 

Lalu kecontoh selanjutnya ketika Beliau dan sahabat Abu Bakar As shidiq berada dalam kejaran para pemuda utusan dari berbagai qobilah, untuk membunuhnya. Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi dalam Gua Tsur. Para kafir Quraisy sebenarnya sudah berada di mulut Gua. Dengan keadaan genting ini Abu Bakar merasakan ketakutan dan kegelisahan yang dahsyat. Lalu Rasulullah pun menenangkannya dengan kata-kata motifasi, ‘jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’.  

Jika orang sudah tak menghiraukan lagi berpola pikir jernih maka yang terjadi adalah kecerobohan-kecerobohan konyol yang akhirnya berakhir dengan kemarahan yang tidak perlu. Orang seharusnya bisa menyalakan api kompor secukupnya agar tak terjadi kebakaran. Orang seharusnya bisa membuka kran air secukupnya tanpa menyebabkan krisis air. Orang seharusunya bisa meninggalkan kamar mandi setelah ia pakai tanpa meninggalkan bekas yang merepotkan. Orang seharusnya bisa tau diri menggunakan waktunya tanpa menyalahkan satu pihak. Orang seharusnya tidak tinggal diam melihat orang yang masih tertidur di masjid padahal waktu sudah azan. So, marilah kita selalu berusaha dan mencoba untuk selalu berfikir jernih dalam segala hal. Wallahu a’lam.              

By : Irsyadul Hakim



Sebuah perkataan cinta Nabiyulloh Musa…
Yang murni serta dilandasi keikhlasan untuk ridho Allah semata… 
Tak terbetik pun hawa nafsu dalam melafazkannya…
Sebuah kata yang biasa tapi mampu menumbuhkan rasa cinta….
Kata cinta yang penuh makna…
Hanya jiwa suci yang mampu mengungkap serta merasakan maknanya…

Sedikit petikan puisi diatas yang melambangkan perkataan cinta Nabi Musa. Tapi sob sebelum lebih jauh mendalami kata-kata cinta nabi Musa, akan sedikit ane nukilkan kisah nabi Musa yang menjadi dasar mengapa ane katakan sebagai lafazh Cinta Nabi Musa. Cerita yang serat makna yang luar biasa sob. Ini nih ceritanya…

Cerita dari buku “Kisah-Kisah Orang Buron Dalam Islam” Karya Abu Jandal Al Azdi yang dinukil dari Surat Al-Qashash: 20-28.  Cerita berawal ketika Firaun dan para petinggi kerajaan memutuskan untuk mengejar dan membunuh musa karena khawatir akan adanya pemberontakan darinya. Kemudian datanglah seorang pemuda memberikabar kepada Musa bahwa ia akan dibunuh oleh Firaun dan balatentaranya. Saat itu juga Allah memerintahkan Musa untuk pergi dari kampung halamannya menuju kearah Negeri Madyan yang terletak di selatan Syam. Negeri yang teramat jauh dari kampung halaman Musa. Beliau pergi dengan keadaan was-was dan takut dan hanya berbekal keyakinan akan pertolongan Allah semata.
            
Tatkala memasuki Negeri Madyan Beliau melihat para penggembala kambing yang sedang meminumkan kambing-kambing mereka. Dalam keadaan lelah beliau terus berjalan menyusuri mata air kaum madyan sampai akhirnya beliau melihat dua sosok wanita yang menambatkan kambingnya menunggu parapenggembala pria lain selesai meminumkan ternak mereka. Dan inilah Lafazh cinta nabi Musa, “Kalian Berdua Kenapa?”
   
Mungkin lafazh nabi Musa di atas terlihat biasa. Kalau bisa di kata ngga keren atau gombal kayak anak muda zaman sekarang. Tapi jika kita mau mendalami lebih dalam kisah di atas tadi, betapa dahsyatnya perkataan nabi Musa di kisah tadi yang akhirnya menumbuhkan cinta. Di dalam kisah tersebut bahwa nabi musa tertimpa rasa lelah yang teramat sangat akibat perjalanan jauh karena dikejar-kejar balatentara firaun. Kemudian cuaca saat itu sangatlah panas. Nabi Musa pula adalah orang asing di Negeri Madyan. Saat Beliau melihat dua orang wanita yang menambatkan kambing-kambingnya karena tidak mau berdesak-desakan dengan para pria dan rela mendapatkan sisa-sisa air dari pada harus bercampur dengan laki-laki. Maka Bergejolaklah Fitroh Musa sebagai Pria yang sehat dan kuat. Akhirnya Musa pun maju untuk mengambilkan air yang akan di berikan kekambing-kambing wanita tadi walaupun dirinya pun masih sangat teramat lelah. Setelah menolong ke dua wanita tadi. Musa pun langsung pergi ketempat teduh dan tidak mengharap apapun dari ke dua wanita.Hal ini akan sangat berbeda dengan kebanyakan para pemuda sekarang,  menolong wanita tapi ada maunya di belakangnya.  Ingin ini itu bahkan Naudzubillah menginginkan yang ‘nggak-nggak’ dari wanita yang di tolong tersebut. Tapi tidak dengan nabi Musa beliau hanya mengharap kebaikan dari Allah,  ini terlihat dari perkataan beliau saat berteduh, “Wahai Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.
        
Dan di akhir kisah di atas tadi, dua wanita itu menceritakan kepada ayahnya yaitu Syuaib tentang pertolongan pemuda tadi yang tidak lain adalah Musa. Kemudian akhirnya salah seorang di antara mereka di minta memanggil Musa menghadap Syuaib. Lalu salah satu dari ke dua putrinya meminta ayahnya untuk memperkerjakan karena dia lelaki kuat juga terpercaya. Si putri tadi menceritakan bagaimana ia kuat dalam menimba air serta terpercaya karena selalu menjaga pandangan tatkala berbicara padanya. Akhirnya Allah membalas Doa dari musa lewat Syuaib yang meminta dia untuk menikahi salah satu dari kedua putrinya dan berkerja untuknya. Dan akhirnya pula juga terbebas dari kejaran balatentara Firaun.

Itulah kisah tentang Lafazh Cinta nabi Musa, lafazh cinta yang di landasi karena Allah bukan karena hawa nafsu karena wanita. Akhirnya memunculkan rasa cinta dari syuaib dan ke dua putrinya kepada Nabi Musa. Wallohua’lam.


by: Azhar Nurochman

Friday, 3 August 2012



Manusia itu selalu diuji Allah dengan kesusahan atau nikmat yang silih berganti. Apa saja pergolakan dan perubahan yang berlaku dalam hidup manusia ini hanya mempunyai dua sifat atau dua bentuk. Ujian kesusahan atau ujian kenikmatan. Atas kedua-dua bentuk ujian ini, hati perlu menerimanya dengan betul, yaitu bersabar apabila menerima kesusahan dan bersyukur apabila dikaruniakan nikmat.
Bersabar itu lebih susah dan lebih berat karena hati melalui kesusahan, keresahan, tekanan dan penderitaan. Emosi, fikiran dan ketegangan jiwa terganggu. kebahagiaan hilang.
Bersyukur nampaknya lebih senang dan mudah karena hati manusia berada dalam keadaan tenang dan gembira, tida ada tekanan atau penderitaan.
Hakekatnya tidak demikian. Allah memberitahukan orang-orang bersyukur itu sedikit sekali bilangannya.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS.Saba’[34]:13).
Syukur yang bernar itu syukur yang diucapkan oleh lisan, yang dirasakan atau dibenarkan di dalam hati, dan yang dilaksanakan dalam perbuatan. Di samping mengucapkan “Alhamdulillah” dan di samping merasakan di hati bahwa Allah lah yang mengaruniakan nikmat tersebut, nikmat itu mesti digunakan atau dikorbankan ke jalan Allah.
Kalau kaya, kekayaan itu perlu digunakan ke jalan Allah untuk membantu fakir miskin, untuk jihad fi sabillah dan untuk kemaslahatan umat Islam keseluruhannya. Begitulah juga dengan segala bentuk nikmat Allah yang lain. Semuanya perlu dimanfaatkan ke jalan Allah untuk mendapat keridhaan-Nya.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim[14]:7).
Syukur seperti ini yang Allah suka dan yang Allah kehendaki. Dia akan tambah lagi nikmat-Nya, untuk mengganti apa yang dikorbankan e jalan Allah itu. Dalam bersyukur itu ada tugas, ada kerja dan ada tanggungjawabnya yaitu menggunakan dan mengorbankan segala nikmat yang Allah karuniakan itu ke jalan Allah. Nikmat Allah itu perlu diurus dan digunakan pada jalan yang betul.
Dalam bersabar, tidak ada kerja atau tanggungjawab tambahan selain dari menahan perasaan. Apa yang perlu hanyalah mengaja dan mendidik hati supaya dapat menerima ketentuan Allah itu dan berbaik sangka dengan-Nya.
Kenapa Allah berfirman bahwa sedikit sekali hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur karena bersyukur itu sendiri bukanlah suatu perkara yang mudah. Bersyukur itu lebih berat daripada bersabar.