Wednesday, 5 August 2015


FEE STRUCTURE for Fall 2015









(All fee are subject to revision from time to time)
Abbreviations: PCR (Per Credit Hour), PS (Per Semester), PM (Per Month)









S. #
Degree Program
Library Security (Refundable)
One Time Charges
Semester Fee
Total Fee of 1st Semester
HOSTEL CHARGES (PM)
Security
Hostel Dues (Pak)
Hostel Dues (OSS)
FACULTY OF ARABIC
Department of Translation & Interpretation
1
BS T & I
3900
2500
27500
33900
3000
3000
3500
2
MS TS
3900
3500
36000
43400
3000
4000
4500
Department of Arabic Literature & Linguistics
3
BS Arabic
3900
2500
9900
16300
3000
3000
3500
4
MA Arabic
3900
2500
12100
18500
3000
3000
3500
5
MS Arabic
3900
2500
14300
20700
3000
4000
4500
6
MS TA to Non Arabs
3900
2500
14300
20700
3000
4000
4500
7
Ph.D Arabic
3900
2500
14300
20700
3000
4500
5000
FACULTY OF BASIC & APPLIED SCIENCES
Department of Computer Sciences
8
BS IT
2500
8500
46800
57800
3000
3000
3500
9
BS CS
2500
8500
46800
57800
3000
3000
3500
10
MS CS
2500
8500
46800
57800
3000
4000
4500
11
Ph.D CS
2500
8500
39600
50600
3000
4500
5000
Department of Software Engineering
12
BS SE
2500
8500
46800
57800
3000
3000
3500
13
MS SE
2500
8500
46800
57800
3000
4000
4500
14
Ph.D SE
2500
8500
39600
50600
3000
4500
5000
Department of Mathematics
15
BS Maths.
2500
8500
27000
38000
3000
3000
3500
16
MSC Maths.
2500
8500
28800
39800
3000
3000
3500
17
MS Maths.
2500
8500
22800
33800
3000
4000
4500
18
Ph.D Maths.
2500
8500
39600
50600
3000
4500
5000
segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad SAW para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada asalnya segala sesuatu adalah mubah, kecuali ada dalil dan bukti yang menunjukkan keharamannya sebagaimana yang disebutkan di dalam kaidah fikih:
الأصل فى الأشياء الاباحة حتى يدل الدليل على التحريم
“Hukum asal sesuatu itu mubah (boleh), kecuali ada dalil yang mengharamkannya”

Sunday, 2 August 2015

      
   I’tikaf secara etimologi artinya Berdiam diri dan menahan (memenjarakan), secara terminologi artinya tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt, I’tikaf adalah sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi setiap muslim dalam memelihara dan meningkatkan kualitas keislamannya, khususnya dalam era globalisasi, materialisasi yang bisa menjadikan manusia lupa kepada Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits, bahwa Allah telah memuliakan bulan ramadhan dengan malam lailatul qadar, yang diyakini ibadah didalamnya lebih baik dari seribu bulan, oleh sebab itu dianjurkan bagi setiap muslim untuk berlomba - lomba  menggapai malam lailatul qadar, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau melaksanakan ibadah dalam 10 hari terakhir bulan ramadhan dengan sungguh – sungguh, salah satunya adalah dengan beri’tikaf, ‘Aisyah Radlhiallahu ‘Anha meriwayatkan :”Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkan beliau” (HR. Bukhari dan Muslim), maka disunnahkan bagi umat muslim untuk melaksanakannya di 10 hari terakhir bulan ramadhan

Keutamaan I’tikaf

Imam Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah Anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf ? Imam Ahmad menjawab : tidak, kecuali hadits yang lemah. Namun demikian tidak mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai ibadah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para Sahabat, para Istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.
      Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad SAW para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Niat adalah amalan yang agung, ia adalah pokok dari setiap ibadah, begitu juga melaksanakan zakat fitrah harus dilaksanakan dengan niat, dan ia letaknya di dalam hati tanpa perlu dilafadzkan melalui lisan, sebagaimana yang telah di jelaskan Imam An Nawawi di dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab:

“Berkata sahabat-sahabat kami: jika seseorang berniat di dalam hatinya tanpa dilafalkan dengan lisannya maka amalnya sah, tidak ada perbedaan di dalam masalah ini, sebaliknya, jika ada orang yang melafalkan niat dengan lisannya –yaitu niat untuk menunaikan zakat fitrah– namun hatinya tidak berniat maka hampir semua ulama mengatakan amalnya tidak sah”.
Ketika seorang membayar zakat maka disunnahkan sang penerima zakat (atau diwakilkan amil) mendoakan sang pemilik harta, Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

“ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka”. (QS. At-Taubah-103).

Imam As Syirazi di dalam Al Muhadzab menyebutkan:
“Dan disunnahkan untuk mengucapkan kepada mereka Allahumma Shalli Ala Ali Fulan (semoga Allah mengampuni keluarga fulan), sebagaimana Abdullah bin Abi Aufa meriwayatkan, ia berkata: Ayahku datang kepada Rasulullah SAW dengan sedekah hartanya, maka beliau bersabda:
اللهم صل على آل أبي أوفى

“Semoga Allah mengampuni keluarga Abu Aufa”. Dan bisa dengan doa apapun diperbolehkan, Imam Asy Syafii berkata: “dan aku menyukai untuk berdoa:

آجرك الله فيما أعطيت وجعله لك طهوراً وبارك لك فيما أبقيت

“Semoga Allah mengganjar atas apa yang engkau berikan, menjadikannya sebagai penyuci untukmu dan memberkahi hartamu yang tersisa”. Namun jika tidak mendoakan juga tidak mengapa (selesai perkataan Imam As Syirazi).